Laman

Selasa, 23 Oktober 2012

MAKALAH KEBUDAYAAN IBU NIFAS DALAM SUKU TOLAKI

Beberapa waktu yang lalu, kami diberikan tugas membuat makalah kebudayaan masa nifas. sebenarnya, soalnya lumayan gampang (Ciaahh!! sok banget!!!) hahaha, tapi jawabannya yang susah di cari! terutama bagi aku yang notabebenya bukan masyarakat asli tolaki. yeah, untung saja beberapa teman asli dari tolaki yang memberi informasi tambahan mengenai kebudayaan tolaki. 
mungkin, bagi kamu yang sedang sibuk mencari tugas yang sama dengan aku. nih, aku kasih makalah yang aku dan teman-teman kelompokku buat untuk kamu jadikan referensi. yeah, boleh di copas sih. asal jangan di REUSE! hahah, cukup dijadikan REFERENSI. okkeee

KEBUDAYAAN IBU NIFAS DALAM SUKU TOLAKI
LOGO POLTEKKES KENDARI / POLTEKES/ POLITEKNIK KESEHATAN KENDARI
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan YME atas segala kebesaran dan nikmat hidayah yang telah diberikan-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan Makalah Ilmu Sosial Budaya Dasar (ISBD) yang berjudul “Aspek Kebudayaan Ibu Nifas dalam Suku Tolaki” ini dengan lancar.
Penyusunan Makalah ini dalam rangka memenuhi tugas. dan sebagai sarana untuk menambah pengetahuan serta wawasan.
Penyusun juga berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyusunan Makalah ini, pihak-pihak tersebut adalah:
1. Dosen mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (ISBD)  Ibu Sitti Aisa, AM.Keb, S.Pd, M.Pd
3. Orangtua tercinta.
4. Teman-teman kelompok 3 yang telah bekerjasama sehingga penyusunan Makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.
Penyusun sadar bahwa makalah ini masih memiliki kelemahan dan kekurangan. Oleh karena itu, Penyusun memohon maaf atas kekurangan tersebut. Penyusun juga senantiasa membuka tangan untuk menerima kritik dan saran yang membangun agar kelak kami bisa berkarya lebih baik lagi.
Harapan Penyusun, semoga karya kecil ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Semoga pula makalah ini dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Kendari,12 Oktober 2012

Peyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Aspek sosial dan budaya sangat mempengaruhi pola kehidupan semua manusia. Dalam era globalisasi dengan berbagai perubahan yang begitu ekstrem pada masa ini menuntut semua manusia harus memperhatikan aspek sosial budaya. Salah satu masalah yang kini banyak merebak di kalangan masyarakat adalah kematian ataupun kesakitan pada ibu dan anak yang sesungguhnya tidak terlepas dari faktor-faktor sosial budaya dan lingkungan di dalam masyarakat dimana mereka berada.
Disadari atau tidak, faktor-faktor kepercayaan dan pengetahuan budaya seperti konsepsi-konsepsi mengenai berbagai pantangan, hubungan sebab- akibat antara makanan dan kondisi sehat-sakit, kebiasaan dan ketidaktahuan, seringkali membawa dampak baik positif maupun negatif terhadap kesehatan ibu dan anak. Pola makan, misalnya, pacta dasarnya adalah merupakan salah satu selera manusia dimana peran kebudayaan cukup besar. Hal ini terlihat bahwa setiap daerah mempunyai pola makan tertentu, termasuk pola makan ibu nifas yang disertai dengan kepercayaan akan pantangan, tabu, dan anjuran terhadap beberapa makanan tertentu.
Tak terkecuali suku Tolaki yang berada di Provinsi Silawesi Tenggara. Masyarakat suku Tolaki masih memegang beberapa kepercayaan, larangan hingga anjuran tertentu bagi Ibu Nifas. Padatnya pembangunan hingga derasnya pengaruh globalisasi di Sulawesi Tenggara, ternyata tidak mampu menghilangkan kepercayaan dan kebudayaan suku Tolaki terhadap Ibu Nifas.
Kebudayaan tersebut tidak dapat dihilangkan, salah satu alasan yang kuat dikarenakan pembuktian terhadap beberapa mitos hingga kepercayaan Ibu Nifas benar adanya. Namun di sisi lain, terdapat beberapa kepercayaan/mitos yang sama sekali tidak membawa dampak positif bagi Ibu Nifas hingga bayi baru lahir.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pengertian Masa Nifas?
2.      Apa Kebutuhan Ibu Nifas?
3.      Bagaimana pengaruh kebudayaan Tolaki terhadap Ibu Nifas?
4.      Apa saja Faktor-Faktor pemicu kebudayaan Ibu Nifas?

C.     Tujuan
1.      Mengetahui aspek sosial budaya pada Ibu Nifas dalam suku Tolaki.
 
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Masa Nifas
Menurut para ahli, Masa Nifas adalah :
1.      Periode post natal adalah waktu penyerahan dari selaput dan plasenta (menandai akhir dari periode intrapartum) menjadi kembali ke saluran reproduktif wanita pada masa sebelum hamil. Periode ini juga disebut puerperium
(Varney, 1997, hal. : 549).
2.      Masa nifas adalah masa sesudah persalinan, masa perubahan, pemulihan, penyembuhan dan pengembalian alat-alat kandungan. Proses masa nifas berkisar antara 6 minggu atau 40 hari. (Jenny Sr, 2006, hal. : 7).
Secara umum, Masa nifas (Puerperium) atau Periode Post natal adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra-hamil. Lama masa nifas ini yaitu : 6 – 8 minggu.
Nifas dibagi dalam 3 periode :
1.      Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam agama Islam, dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
2.      Puerperium Intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6 – 8 minggu.
3.      Remute Puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bila berminggu-minggu bulanan atau tahan.

B.     Kebutuhan masa nifas.
a.       Fisik
Istirahat,makanan bergizi,udara segar,lingkungan yang bersih.
b.      Psikologi
Distres waktu persalinan segera di stabilkan dengan sikap badan atau keluarga yang menunjukan simpati,mengakui,menghargai,sebagai mana adanya.
c.       Social
-Menemani ibu bila kelihatan kesepian
-Ikut menyayangi anaknya
-menangapi bila memperhatikan kebahagiaan
-Menghibur bila terlihat sedih.
d.      Kebutuhan Gizi Yang Perlu diperhatikan :
1.      Makanan dianjurkan seimbang antara jumlah dan mutunya
2.      Banyak minum, setiap hari harus minum lebih dari 6 gelas
3.      Makan makanan yang tidak merangsang, baik secara termis, mekanis atau kimia untuk menjaga kelancaran pencernaan
4.      Batasi makanan yang berbau keras (tidak terlalu asin, pedas atau berlemak, tidak mengandung nikotin serta bahan pengawet atau pewarna)
5.      Gunakan bahan makanan yang dapat merangsang produksi ASI, misalnya sayuran hijau.
C.    Kebudayaan Ibu Nifas dalam Suku Tolaki.
Pada dasarnya, setiap suku memiliki beberapa kebudayaan terkait dengan Ibu hamil, menyusui, hingga masa nifas. Kebudayaan tersebut diantaranya :

1.      Ibu dilarang makan terong.
Alasan :
Karena terong dapat membuat tubuh si ibu dan bayi menjadi gatal.
Pembuktian :
Terong merupakan salah satu jenis sayuran yang banyak mengandung Vitamin A dan C. Terutama pada jenis Terong Belanda.  Terong jenis ini mempunyai banyak manfaat dan khasiat, diantaranya mengandung antosianin, termasuk kedalam golongan flavonoid yang merupakan salah satu jenis antioksidan. Antioksidan ini dapat membantu daya tahan tubuh menjadi lebih baik. Terong  juga kaya akan vitamin A dan C untuk  meningkatkan daya tahan tubuh selain itu, bagi pertumbuhan tubuh terong sangat bagus karena mengandung fosfor dan magnesimu yang akan membantu pertumbuhan tulang.
Oleh karena itu, tidak benar bila terong dapat menyebabkan gatal-gatal pada Ibu dan Bayi.
2.      Ibu diwajibkan mandi air hangat/ mengkompres perut dengan botol yang diisi dengan air panas.
Alasan :
Karena dengan mandi air hangat dapat mengobati luka dalam pasca melahirkan.
Pembuktian :
Hal ini dinilai cukup benar. Karena air hangat dapat memperlancar peredaran darah. Aliran darah yang lancar sangat mempengaruhi sistem metabolisme dalam tubuh. Dalam darah terkandung oksigen serta nutrisi yang diperlukan bagi sel-sel dalam tubuh,  sehingga dalam proses penyembuhan luka dalam menjadi sedikit lebih cepat.
3.      Ibu nifas tidak boleh makan makanan yang pedas.
Alasan :
Karena makanan pedas bila dikonsumsi ibu dapat menyebabkan ASI menjadi pedas.
Pembuktian :
Sebenarnya, makanan pedas yang mengandung cabai memiliki kandungan kapsaisin bersifat antikoagulan, yaitu menjaga darah tetap encer dan mencegah terbentuknya kerak lemak pada pembuluh darah. Sehingga orang yg suka makan sambal dpt memperkecil kemungkinan menderita penyumbatan darah (aterosklerosis), shg mencegah munculnya serangan stroke dan jantung koroner, serta impotensi. Namun, bagi ibu nifas mengonsumsi sambal/cabai dapat menyebabkan naiknya asam lambung sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman di perut. Bila dikonsumsi berlebih dapat mengakibatkan infeksi pada lambung. Bayangkan saja, apabila ibu yang pasca melahirkan masih memiliki luka didaerah perut(setelah operasi caesar) ataupun rasa sakit pasca melahirkan, kemudian megonsumsi cabai/makanan pedas lainnya akan menambah rasa sakit bagi ibu. Oleh karena itu, larangan ini memiliki dampak positive bagi Ibu nifas.
4.      Ibu diwajibkan mengenakan gurita diperut.
Alasan :
Karena gurita dapat mengembalikan bentuk tubuh yang melar pasca melahirkan.
Pembuktian :
Pada dasarnya, dunia kedokteran tidak menganjurkan setiap pasien bersalin untuk memakai stagen. Stagen tidak memeberikan efek positif dalam mengecilkan atau mengencangkan perut karena sifatnya yang pasif. Kebudayaan ini hanya membawa dampak positive bagi ibu yang mengalami masalah kurang percaya diri dengan bentuk tubuh yang melar pasca melahirkan. Tetapi, bila dilihat dari sisi kesehatan, penggunaan gurita sama sekali tidak mempengaruhi kondisi kesehatan ibu. Karena, gurita hanya akan menyamarkan perut ibu yang melar pada saat menggunakan gurita, tetapi bila dilepas, bentuk tubuh ibu akan kembali terlihat melar/kendur. Penggunaan gurita diperbolehkan karena gurita tidak membalut perut ibu terlalu kencang seperti stagen. Namun perlu pula diperhatikan bagi ibu yang baru melakukan operasi caesar. Jahitan yang masih baru atau basah jika langsung dipakaikan gurita, apalagi stagen, malah akan bertambah parah. Jahitan bisa terbuka kembali, atau bahkan bernanah.
5.      Jika ibu duduk atau tidur harus meluruskan kakinya.
Alasan :
Agar urat-urat tidak kendur.
Pembuktian :
Pada ibu yang baru saja melahirkan atau berada pada masa nifas jelas hal ini sangat mempunyai dampak yang positive bagi si ibu tersebut, karena jika ibu duduk atau tidur pada posisi miring atau di tekuk dapat mempengaruhi posisi tulang ibu tersebut karena tulang ibu pada masa nifas seperti bayi, yang apabila si ibu melakukan gerakan miring pada saat tidur dan menekuk saat duduk akan berisiko, larangan ini baik untuk ibu karena pada ibu pada masa nifas mudah terkena varises dan dampak negative akan larangan ini jelas tidak ada baik bagi si ibu maupun pada bayi yang baru dilahirkan.
6.      Ibu diwajibkan kencing diatas bara api.
Alasan :
Agar luka di vagina pasca melahirkan cepat sembuh.
Pembuktian :
Bara Api menghasilkan Uap panas. Dalam hal ini, kencing di atas bara api dapat dikatakan terapi Uap. Terapi uap merupakan salah satu pilihan yang paling mudah dan sederhana untuk mengeluarkan racun-racun yang menumpuk di dalam tubuh. Saat pori-pori terbuka dan jutaan kelenjar keringat mulai mengeluarkan keringat, maka tubuh juga akan mengeluarkan sampah-sampah sisa metabolisme. Terapi uap juga berfungsi memperlancar aliran darah. Hal ini sekaligus akan memperlancar suplai nutrisi ke seluruh tubuh. Selama proses mandi uap, aliran darah ke kulit meningkat dari 5-10% menjadi 50-70%. Peningkatan aliran darah ini sekaligus membawa nutrisi penting ke kulit dan jaringan, menstimulasi aktivitas selular dan pertumbuhan sel-sel. Namun perlu diingat, kencing di atas bara api tidak boleh di lakukan pada ibu yang masih memiliki luka pasca melahirkan khususnya di daerah vagina. Karena akan memungkinkan si ibu terkena percikkan bara api atau abu yang dapat menambah parah luka pasca melahirkan.

D.    Faktor-Faktor Pemicu Kebudayaan Ibu Nifas
1.      Faktor predisposisi yang meliputi:
a.       Pengetahuan
·         Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dibandingkan dengan perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Pengetahuan yang hanya setengah justru lebih berbahaya daripada tidak tahu sama sekali, kendati demikian ketidaktahuan bukan berarti tidak berbahaya.
b.      Pendidikan
·         Pendidikan merupakan jalur yang ditempuh untuk mendapatkan informasi. Informasi memberikan pengaruh besar terhadap perilaku ibu nifas. Apabila ibu nifas diberikan informasi tentang bahaya pantang makanan dengan jelas, benar dan komprehensif termasuk akibatnya maka ibu nifas tidak akan mudah terpengaruh atau mencoba melakukan pantanng makanan
c.       Pengalaman
·         Pengalaman merupakan sumber pengetahuan dan tindakan sesorang dalam melakukan sesuatu hal. Adanya pengalaman melahirkan dan menjalani masa nifas maka ibu akan mempunyai perilaku yang mengacu pada pengalaman yang telah dialami sebelumnya. Misalnya ibu nifas yang dahulunya mengalami masalah baik pada dirinya dan bayinya karena pantang makanan maka ibu nifas tidak akan melakukan pantang makanan kembali pada masa nifas berikutnya.
d.      Pekerjaan
·         Pekerjaan merupakan suatu usaha dalam memporelh imbalan yaitu uang. Suami yang bekerja akan mendukung ibu dalam memenuhi kebutuhan masa nifas yang mengandung banyak zat gizi, sedangkan ibu yang bekerja menyebabkan ibu mempunyai kesempatan untuk bertukar informasi dengan rekan kerja tentang pantang makanan.
e.       Ekonomi
·         Status ekonomi merupakan simbol status sosial di masyarakat. Pendapatan yang tinggi menunjukan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan nutrisi yang memenuhi faedah zat gizi untuk ibu hamil. Sedangkan kondisi ekonomi keluarga yang rendah mendorong ibu nifas untuk melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan kesehatan
f.       Budaya
·         Menjalankan ritual yang menyatakan tentang hubungan, kekuatan, dan keyakinan. Derajat keyakinan. Derajat keyakinan budaya khusus dan perilaku yang ada dalam kehidupan keluarga dfikaitkan dengan lama waktu kieluarga tersebut ada di dalam syatu komunitas, komposisi komunitas, dan jarak geografik, serta bersifat sementara dari keluarga besar dan komunitaas asal. Lingkungan sangat mempengaruhi, khususnya di pedesaan yang mana masih melekatnya budaya tarak dari nenek moyang. Dan sangat berpengaruh besar terhadap prilaku ibu pada masa nifas. Adapun keadaan keluarga yang mempengaruhi perilaku seseorang yaitu orang tua yang masih percaya dengan budaya tarak yang memang sudah turun temurun dari nenek moyang.
2.      Faktor pendukung : yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak bersedianya fasilitas – fasilitas atau sarana – sarana kesehatan. Misalnya Puskesmas, obat-obatan, alat-alat kontrasepsi, jamban.
3.      Faktor pendorong : yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lainnya yang merupakan kelompok retefensi dari perilaku masyarakat. (Paath, 2005).
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan akan budaya ibu nifas yang telah dijelaskan dalam Makalah ini, maka dapat kita ambil kesimpulan, sebagai berikut :
·         Masa nifas (Puerperium) atau Periode Post natal adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra-hamil. Lama masa nifas ini yaitu : 6 – 8 minggu
·         Nifas dibagi dalam 3 periode yaitu : Puerperium dini,  Puerperium Intermedial, Remute Puerperium.
·         Kebutuhan Ibu dalam masa nifas, terdiri atas kebutuhan : Fisik, Psikologi, Social, Kebutuhan Gizi.
·         Dalam suku Tolaki masih terdapat kebudayaan-kebudayaan Ibu Nifas. Kebudayaan tersebut ada yang bersifat negative hingga positif.
·         Kebudayaan tarak(larangan makan makanan tertentu) dapat ditemukan dalam suku Tolaki. Diantaranya larangan makan terong, dan makanan pedas.
·         Kewajiban mandi air hangat, duduk dengan kaki lurus, hingga menggunakan stagen, merupakan beberapa kebudayaan yang masih ada ditengah masyarakat hingga kini.
·         Beberapa kebudayaan Ibu Nifas di suku Tolaki yang bersifat negatif(membawa dampak negative bagi ibu) adalah, larangan makan terong, hingga kewajiban mengenakan stagen.
·         Adapun kebudayaan yang dinilai memiliki dampak positif bagi ibu nifas diantaranya : duduk/tidur dengan kaki diluruskan, mandi air hangat, larangan mengkonsumsi makanan pedas, dan kencing di atas bara api (Terapi Uap).
·         Faktor-faktor yang memicu : Faktor predisposisi (pengetahuan, pendidikan, pengalaman, pekerjaan, ekonomi, budaya), faktor pendukung, faktor pendorong.
B.     Saran
Masih adanya kebudayaan Ibu nifas ditengah-tengah masyarakat Tolaki merupakan hal yang wajar. Namun, bila kebudayaan tersebut membawa pengaruh negatif maka perlu dilakukan khusus agar kebudayaan tersebut tidak terus dilakukan.
·         Bidan, masyarakat, hingga keluarga terdekat harus lebih memperhatikan kebudayaan yang dianggap bernilai negatif.
·         Tidak perlu dilakukan pelarangan mendadak terhadap kebudayaan yang dianggap negatif tersebut, karena hal itu akan membuat masyarakat yang berpegang teguh pada kepercayaan tersebut akan marah atau tersinggung.
·         Bidan atau para staf kesehatan harus lebih gencar melakukan penyuluhan akan kebudayaan-kebudayaan yang dianggap tidak bermanfaat bagi Ibu hamil, melahirkan hingga Ibu Nifas.
·         Ibu Nifas pun harus lebih mencari informasi penting akan kebutuhan gizi hingga anjuran-anjuran yang baik bagi dirinya selama masa Nifas. Ibu nifas diwajibkan tidak hanya berpangku tangan menerima segala kebudayaan tanpa mencaritahu atau menyeleksi hal-hal yang dianggap diluar dari akal sehat untuk diikuti.
DAFTAR PUSTAKA
-         dr. Suparyanto, M.Kes. 2010. Pantang Makanan di masa Nifas. http://dr-suparyanto.blogspot.com/2010/12/pantang-makanan-di-masa-nifas.html Diakses pada tanggal 10 Oktober 2012
-          Manfaat Terong Bagi Kesehatan. 2012. http://ngenee.blogspot.com/2012/06/manfaat-terong-bagi-kesehatan.html Diakses pada tanggal 10 Oktober 2012
-          Manfaat Terong. 2012. http://manfaat.org/manfaat-terong#.UHqyOWMhO_A. Diakses pada tanggal 10 Oktober 2012
-          Manfaat Mandi Air Hangat Bagi Kesehatan http://intips-kesehatan.blogspot.com/2012/05/mandi-air-hangat-sehat.html Diakses pada tanggal 10 Oktober 2012
-          Iwandahnia. 2010. Fatal Bila Sirkulasi Darah Tidak Lancar. http://iwandahnial.wordpress.com/2010/04/09/fatal-bila-sirkulasi-darah-tidak-lancar/. Diakses pada tanggal 10 Oktober 2012
-          Indry file. 2012. Dampak Positif dan Negatif makan cabai. http://indryfile.blogspot.com/2012/04/dampak-positif-dan-negatif-makan-cabai.html. Diakses pada tanggal 10 Oktober 2012
-          Admin .2011. Dampak Negatif dan Positif mengkonsumsi Sambal. http://kolom-inspirasi.blogspot.com/2011/10/dampak-negatif-dan-positif-mengkonsumsi.html. Diakses pada tanggal 10 Oktober 2012
-          Administrator. 2012. Bolehkah Menggunakan Stagen atau Gurita Setelah Melahirkan?. http://bidanku.com/index.php?/bolehkah-menggunakan-stagen-atau-gurita-setelah-melahirkan. Diakses pada tanggal 10 Oktober 2012
-          Ikarowina Tarigan. 2009. Enam Manfaat Terapi Uap. http://www.mediaindonesia.com/mediahidupsehat/index.php/read/2009/08/25/1549/13/-Enam-Manfaat-Terapi-Uap Diakses pada tanggal 10 Oktober 2012